WARISAN PUSAKA INDONESIA
KAIN BASUREK BENGKULU
Budaya Asli Bernapaskan Islam
yang Mulai Langka
Mungkin tidak semua orang tahu bahwa Bengkulu juga mempunyai produk warisan budaya yang berbentuk batik. Kain batik khas Bengkulu itu dikenal dengan nama Kain Basurek atau Kain Besurek. Proses pembuatannya sama dengan proses pembuatan kain batik khas Jawa. Namun memang berbeda dari segi motif maupun warna.
Motif asli Kain Basurek yang dikenalkan sejak ratusan tahun lalu bercorak huruf Arab gundul. Namun terakhir juga dikembangkan dan dicampur dengan motif Bunga Raflesia Arnoldy, bunga khas Bengkulu. Basurek atau Besurek secara harfiah juga berarti menulis atau bersurat.
Jadi, memang tidak lengkap rasanya jika kita singgah atau melakukan perjalanan ke Bengkulu tanpa mencari kerajinan khas yang salah satunya Kain Basurek.Pertokoan di wilayah Anggut dan Penurunan di Kota Bengkulu banyak yang menjual kain ini, termasuk cenderamata dan kerajinan tradisional khas Bengkulu lainnya.
Namun seiring perkembangannya, Kain Basurek kini juga diciptakan dengan teknologi cap (printing) motif basurek, selain juga proses seperti kain batik tulis atau dilukis dengan tangan. Jadi tidak setiap toko menjual besurek asli atau yang dilukis dengan tangan. Sebagian menjual kain dengan proses cap.
Selama ini, layaknya kerajinan tradisional rakyat turun-temurun lainnya, pembuatan kain basurek dikerjakan di rumah-rumah oleh para pengrajin. Namun tidak meningkatnya permintaan atas Kain basurek tersebut, kegiatan melukis kain secara langsung kini sudah semakin jarang dilakukan. Ini lah yang menyebabkan teknologi cap (printing) dilakukan meski tetap bermotif Basurek.
Sebenarnya, upaya itu dilakukan agar bisa lebih memasyarakatkan kain basurek. Hal ini dikarenakan Kain basurek cap lebih murah dibanding kain tulis. Selain itu, melalui pengembangan motif meski mendobrak tradisi lama, diharapkan bisa membuat Kain Basurek terus populer dan dipakai tidak hanya untuk keperluan adat.
Apalagi motif hurf Arab gundul yang tertera di Kain Basurek sebenarnya juga tidak bermakna khusus dan bahkan sulit untuk dibaca. Huruf Arab gundul digunakan hanya untuk memenuhi perspektif seni dan keindahan. Jadi mungkin persisnya hanya bentuk coretan-coretan yang sengaja dimirip-miripkan dengan huruf Arab.
Walaupun di beberapa jenis kain, terutama untuk upacara adat, memang bertuliskan huruf Arab yang bisa dibaca. Tetapi, sebagian besar hanya berupa hiasan mirip huruf Arab.
Namun motif-motif tersebut sangat sakral, terutama pada pemakaian kain upacara adat pengantin dan untuk menutupi mayat. Kain jenis ini biasanya berbentuk kerudung wanita calon pengantin yang juga bisa digunakan untuk upacara ziarah ke makam para leluhur. Upacara ini sangat sakral sehingga penggunaan kain jenis ini tidak boleh sembarangan. Juga masih ada kain untuk kamar pengantin dan syukuran kelahiran bayi. Selain itu, kain basurek ukuran kecil juga digunakan sebagai ikat kepala laki-laki dalam pakaian adat Bengkulu yang disebut detar.
Pengerjaan Kain Basurek sebenarnya menggunakan peralatan sederhana. Pengrajin biasanya menggunakan satu meja kecil, panci tempat malam (lilin batik), kompor kecil, dan canting. Sebelum dibatik, pada kain katun atau kain sutra digambar pola basurek. Setelah itu pengerjaan membatik dimulai. Setiap potong kain basurek berukuran 2,25 meter kali satu meter dikerjakan tiga atau empat hari. Lama waktu yang dibutuhkan juga tergantung pada kerumitan pola yang digambar.
Harga kain besurek beragam, tergantung kualitas pengerjaan, kerumitan pola, dan kualitas bahan. Kain basurek dari bahan kain sutra harganya antara Rp 180.000 hingga Rp 215.000 per lembar. Semakin rumit, semakin mahal harganya.
Sedangkan kain basurek dari bahan katun harganya cukup murah, antara Rp 50.000 hingga Rp 90.000 per lembar. Namun ada sepotong kain basurek berusia 75 tahun yang dihargai Rp 3 juta.
Hingga saat ini, kalangan pengrajin Kain Basurek tulis di Bengkulu terus bertahan, meski penjualan sangat tergantung pada pemesanan dan wisatawan yang dtaang ke Bengkulu. Layaknya penjualan produk lainnya, pemasaran Kain Basurek juga mengalami pasang surut. Untuk itu, baik pengrajin, pengusaha, dan pemerintah daerah harus terus mengembangkan Kain Basurek agar terus digunakan masyarakat. Apalagi Kain Basurek merupakan salah satu warisan budaya yang juga menjadi penopang ekonomi masyarakat di Bengkulu. Dalam hal ini, Kain Basurek harus bisa digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, karena terjangkau dan memenuhi aspek keindahan khas daerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar